Seperti melati namun kini berduri
Menjadi ratu taman…
Menyanyi yang tak terdengar dan menari yang tak terlihat
(…matahari…berjanjilah untuk menemaniku)
Melati Berduri
Aku tak tampak, ketika kesulitan sedang kau hadapi. Bukan karena aku tak peduli. Namun, aku tahu kapan waktu untuk muncul, kapan tidak. Muncul atau tidak muncul, semua tidak selalu berhubungan dengan peduli dan tidak peduli. Ketidakberadaanku disampingmu, bukankah itu yang akan membuatmu tau,…
Namun lalu apakah aku salah, sekedar membawakanmu obat di kala kepalamu terasa berat.
Sekedar menanyakan keadaanmu di pagi hari, setelah detik-detik yang melelahkan.
Sekedar ingin tahu, tenagamu telah kembali untuk melanjutkan kewajiban.
Telah kurelakan hati untuk jatuh dalam sekedar.
Sekedar membuatmu nyaman, dan merasa bahwa di sini pun ada aku yang kau punya. Sebelum kau kembali ke dalam pelukan yang seharusnya.
Ternyata perempuanmu memang telah menunggu. Kamu, akan menghampirinya dalam hitungan menit. Aku, melepas kepergianmu dengan senyum.
Ternyata sekedar memang benar-benar. Bahkan rasa bahagia dan pilu bertemu di hatiku. Mereka bersalaman, lalu berpelukan…
#semoga bahagia, Kak :)
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang makin berdekatan, tapi Ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu…
Nafas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi…
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali..
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah…
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang…
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat, janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung…
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring…”
|| Filosofi Kopi ||
“Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.. dan itulah tujuan kalian.”
—Dee Lestari, Surat yang Tak Pernah Sampai, dalam Filosofi Kopi
Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutra. Berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya, duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Tahukan engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembutaan dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.
Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri. ~Dee~
(via catatanbesarku)
Cinta itu tentang mendengar tawa dari sosok yang kamu cinta.”
(via catatanbesarku)
(Source: boecahlawu, via anamrufisa)
(via catatanbesarku)